Selasa, 11 Agustus 2015

Terpenjara dalam kemerdekaan


Kota hujan, Agustus 2015 (dalam rencanaMu)

Bangsa indonesia beberapa hari kedepan secara serempak akan merayakan hari kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 2015. Kita sebagai masyarakat beramai-ramai akan merayakannya, masing2 panitia dari tiap2 daerah sibuk mempersiapkan acara untuk lomba-lomba. tapi aku, hanya bisa berbaring, dan sesekali duduk didepan laptop untuk membuat tugas dari grup ODOP yang baru saja aku ikuti. Aku adalah seorang ibu rumah tangga sudah memiliki dua anak laki2, mereka sudah sekolah yg pertama sudah kelas 6 SD dan yg kedua kelas 2 SD.  aku beruntung mempunyai suami yang luar biasa, sangat menyayangi keluarga, aku yang sedang terbaring dalam masa pemulihan pasca melakukan kuret, masih lemah dan sehingga belum bisa melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga yang lain. jadi suamiku lah yang menggantikan aku melakukan aktivitas2 itu.  sebelumnya aku jg bekerja, aku mengajar di sebuah sekolah, tidak jauh memang jaraknya dari rumahku, tapi tetap saja kondisi kesehatannku tdk mengizinkan aku untuk beraktifitas.karena ini adalah kuretku yang kedua kalinya, sepertinya aku harus benar2 bedrest. tapi ternyata pihak sekolah memiliki kebijakan sendiri, karena kondisiku yang harus bedrest ini sekolah terpaksa mencari penggantiku, hmmm...lagi2 aku harus mnjadi pengangguran..hee
terpenjara dalam kemerdekaan, sepertinya kata2 itu cocok buatku, bagaimn tidak..september taun kemarin aku mengalami hal yg sama, harus kuret dan terpaksa harus istirahat dr bekerja. sementara orang lain bisa melakukan berbagai aktivitas dengan bebas dan merdeka, aku hanya bisa menikmati heningnya isi rumah sambil membuat coretan2 untuk melepaskan penatku. sambil menunggu 3 jagoanku pulang dr sekolah. Mereka lah semangat hidupku, mereka lah yang menghiasi hari2ku, apalagi anakku yang kelas 6 sudah mulai mengerti dengan kondisi mamahnya, dia tidak pernah merepotkan dalam hal makan,menyiapkan seragam sekolah, dia siapkan semuanya sendiri. Tadi pagi ketika mau berangkat sekolah seperti biasa dia pamit cium pipi kanan kiri, sambil berpesan singkat "cepet sembuh ya mah". Diikuti pelukan hangat dan kecupan dikening dr suamiku seraya berkata, "yang penting skrg mama sehat dulu, nanti kalau sdh sehat bisa cari kerja lagi". Anakku yang kedua teriak2, "ayaaah cepetan ayaah nanti terlambat, cepetaan" , anakku yang kedua itu memang hobinya teriak2 klo ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, hehe.. entahlah padahal sy dan ayahnya tidak pernah menghadirkan suasana teriak2 dirumah, tapi meski begitu ternyata hatinya begitu peka dan lembut, jika melihat saya mneteskan air mata, dia spontan mengambil tissu dan mengelapkannya ke pipiku, sambil berkata "jangan nangis mah, kan ada dede" sambil mengusap2 kepalaku...duuhh anak2ku itu memang luar biasa, anugrah terindah yang Allaah berikan. Keramaian yang mereka ciptakan, kerempongan yang mereka hadirkan, diam2 selalu membuatku rindu.
Untuk itu aku tetap bersyukur kepada Allaah, karena apapun yg Allaah beri untukku itu pasti yg terbaik, karena Allaah maha mengetahui sedang kita tidak. Terpenjara dalam kemerdekaan, ditengah emansipasi wanita, dimana wanita bebas berekspresi, bebas berkarier, karena saat ini bangsa kita adalah bangsa yang merdeka, wanita bisa bekerja dimana saja dan menjabat apa saja, tapi tetap saja, semua itu hanyalah keinginnan kita, yang mutlak menetukan adalah Allaah. Meski saat ini aku merasa terpenjara dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, karena tidak bisa bebas berkarier, tapi yang terpenting saat ini adalah hatiku tidak merasa terpenjara, hatiku merasa merdeka, hatiku merasa bebas. Dan semua itu adalah karunia dari Allaah yang patut aku syukuri. Terimakasih Allaah atas apapun yang telah Engkau rencanakan buatku. Sekian dulu corat coretnya yg amat sangat berantakan ini yaa teman2..harus berbaring dulu niih...terimakasih sdh meluangkan waktu untuk membaca  ditunggu saran dan kritiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar