Senin, 05 Oktober 2015

Bingung mau nulis apa?


Bogor, 05 Oktober 2015

Bingung mau nulis apa? 
bingung sih mau nulis apa. tapi seperti kata bang syaiha, salah satu penulis yang saya suka dengan cara beliau menulis, menulis saja ungkapnya, tulis apa saja yang ingin kau tulis, dan jangan pernah menunggu mood. Iya juga yach, menulis itu sepertinya lebih kepada menghargai hidup kita, menghargai hasil dari apa yang telah kita capai, rekam jejak dalam hidup kita. Selagi tulisan itu tidak merendahkan orang lain, tidak melanggar hak-hak asasi orang lain, why not? apalagi kalau sampai tulisan kita menjadi inspirasi untuk orang banyak. Kebetulan saya sudah menemukan waktu yang cukup tepat untuk saya menulis lagi di blog, tanpa mengganggu waktu kerja, waktu istirahat dan waktu dirumah bersama keluarga. 
Dan, hari ini yang ingin saya tulis adalah, hikmah dari salah satu ayat dari surat Ar-Rahman, yang artinya " maka nikmat dari Tuhanmu yang manalagi yang hendak engkau dustakan ". Kalimat itu berulang-ulang di sampaikan dalam surat Ar-Rahman, menegaskan bahwasanya tidak ada satu pun hal dalam dunia ini yang tidak boleh "tidak kita syukuri". Everything in life is luck!!! pray to Allah. waahh ...nanti dilanjut lagi yach..it's time to go home

Jumat, 18 September 2015

MY TRIP MY ADVENTURE

Bogor September 2015 (dalam rencanaMu)

Dalam tulisan saya kali ini, seperti biasa saya akan membuat tulisan mengenai beberapa kejadian yang telah saya alami. terutama di minggu-minggu belakangan ini, setelah saya diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang sosial ekonomi masyarakat. sebagai seorang staf administrasi, tak pernah terbayangkan dalam fikiranku bahwa akan ada tugas-tugas lapangan yang harus langsung aku kerjakan sendiri, dalam hal ini adalah mengenai survey untuk penerima beasiswa yang merupakan program dari kantor kami. beasiswa bagi siswa berprestasi namun keadaaan ekonominya sangat memperihatinkan. ada juga beberapa siswa yang sudah yatim, atau tidak memiliki ayah. 

Dari 15 siswa yang sudah saya survey, rata-rata keadaan mereka memang layak untuk kita bantu semua, sungguh sangat menyayat hati ketika mendengar cerita dari ibu mereka dengan jarak yang begitu jauh kesekolah, berbekal uang 5rb atau 6rb rupiah mereka tetap berangkat ke sekolah. bahkan jika tidak ada ongkos, mereka akan tetap pergi dengan berjalan kaki!! luar biasa sekali.

Bahkan ada seorang siswa yang karena sangat ingin sekolah, sedangkan orangtua mereka tidak mampu untuk membiayai, kemudian dia memutuskan untuk menunda sekolahnya selama satu tahun untuk bekerja terlebih dahulu, setelah setahun dia bekerja dan mendapatkan uang, barulah dia mendaftarkan dirinya untuk sekolah dengan uang hasil dia bekerja tersebut. sungguh perjuangan yang sangat hebat.

Bagi saya, pengalaman survey ini begitu banyak membawa nilai-nilai positif, energi-energi positif, semangat hidup, semangat berjuang ditengah kesulitan mereka tidak menyerah, mereka tidak putus asa, ditengah maraknya remaja yang hanya bisanya berfoya-foya dengan uang orangtua mereka, tapi para siswa ini layaknya penyejuk mata, hati dan fikiran, akan harapan bagi generasi-generasi muda pengganti kita yang nantinya akan melanjutkan perjuangan bangsa ini menuju era yang lebih baik.

dengan lokasi rumah dengan medan yang begitu berat, tapi mereka tetap semangat untuk menuntut ilmu, dengan pembuktian mereka selalu mendapatkan nilai-nilai yang bagus. saya sempat  merenung sejenak dan berfikir, ketika saya berada disalah satu rumah siswa yang masih berlantaikan tanah, sejenak saya teringat kedua anak-anak saya, ingin sekali saya mengajak mereka kesini, agar mereka dapat membandingkan kehidupan kaka ini dengan kehidupan mereka yang masih bisa kami cukupi. saya ingin mengatakan kepada kedua anak saya, "lihat nak, kaka ini dengan keadaan rumah seperti, dengan jarak yang sangat jauh kesekolah, kadang harus jalan kaki menuju kesekolah, tapi kaka ini tetap semangat dan tidak bermalas-malasan sekolahnya, lantas apa yang terkadang membuat kalian malas untuk sekolah? 

malam hari kalian dapat tidur nyeyak beralaskan kasur empuk, pagi hari kami sebagai orangtua masih bisa menyiapkan sarapan dan uang jajan secukupnya, dan menuju ke sekolah, setiap hari kalian ikut bersama-sama bersama ayah kalian tanpa harus memikirkan ongkos, lantas kenapa kalian masih suka bermalas-malasan sekolahnya? bagaimana seandainya kalian menjadi kaka ini..

lagi-lagi air mata ini menetes ketika bibir ini mengucap Alhamdulillaah...segala puji bagi Allaah...yang telah memberikanku karunia nikmat yang tak terhitung. betul apa kata pepatah, dalam urusan dunia, hendaklah kita selalu melihat kebawah, tapi untuk urusan akhirat hendaklah kita selalu melihat ke atas. maksudnya disini adalah ketika kita merasa kekurangan materi atau hal lain dalam urusan dunia, maka ternyata banyak yang jauh lebih mengalami kesulitan/kesusahan daripada kita, sehingga kita akan senantiasa bersyukur atas nikmat Allaah. sedangkan dalam hal beribadah, janganlah kita merasa cukup akan ibadah-ibdah yang telah kita lakukan. janganlah pernah merasa puas, karena amal ibadah itu kelak akan menjadi bekal kita menuju tempat yang abadi... aamiin


Kamis, 20 Agustus 2015

Pahlawan


Pahlawan, mendengar kata itu yang hadir dalam fikiranku adalah mereka orang - orang yang mau berjuang demi keluarga demi sahabat dan demi negara, bahkan demi orang yang belum mereka kenal. Berjuang, berkorban dalam hal kebaikan, mereka adalah pahlawan. Seorang ayah yang sedang bekerja mencari nafkah dia adalah seorang pejuang sekaligus pahlawan, seorang anak yang sedang berjuang demi orang tuanya dia juga adalah seorang pahlawan, mereka yang memiliki patriotisme dan nasionalisme tinggi, mau bekerja demi negara, memajukan kesejahteraaan bangsa, meski harus dikirim untuk bekerja di pelosok-pelosok Indonesia, tapi dengan ikhlas dan senang hati mereka menjalaninya,mereka adalah pahlawan. Bagiku mereka yang mau mengorbankan waktu untuk diri sendiri, tenaga dan materi, demi kemajuan bangsa, demi kebaikan keluarga, sangat layak dikatakan sebagai pahlawan. Yaa..banyak sekali orang-orang disekitar kita yang sangat layak untuk kita sebut sebagai pahlawan.
 Bahkan mereka yang mau bangkit dari keterpurukan, mereka yang mau belajar dari kesalahan, mereka yang tidak menyerah karena kegagalan, mereka adalah pahlawan bagi diri mereka sendiri.


Pahlawan, seorang Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya, mulai dari mengandung, melahirkan, membesarkan, mendidik, selalu ada untuk anak-anaknya sampai akhir waktu, maka Ibu adalah pahlawan bukan hanya tanpa tanda jasa, tapi lebih dari itu, kepahlawanannya tanpa dapat terukur dan tak terbayar oleh apapun. Seorang guru, adalah pahlawan bagi anak didiknya, dengan pendapatan/penghasilan yang mungkin tidak dapat di samakan dengan para karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan, tapi mereka para guru dengan ikhlas mendidik siswa siswi mereka dan mengamalkan ilmu yang mereka miliki untuk mencetak generasi yang lebih baik. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.


Menjadi seorang pahlawan bagi diri sendiri maupun orang lain, tak berarti hidup kita akan menjadi istimewa dan berada dalam kesejahteraan. Tetapi bukan itu makna menjadi seorang pahlawan bagi diri sendiri maupun orang lain, karena yang kita tuju adalah keberkahan dari Allaah SWT, tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari penglihatan-Nya, tidak ada satu pun kebaikan yang merugi, tidak ada satu kebaikan pun yang tidak ada balasannya, apabila balasan itu tidak kita dapat di dunia, maka yakinlah Allaah akan memberikannya di akhirat kelak. Tempat di mana kita akan pulang, kekal dan abadi di sana.


Pahlawan, satu kata dengan ribuan makna yang mendalam bagi mereka yang dapat melihat kebaikan dalam setiap sudut pandang kehidupannya. Pahlawan, kata itupun mengingatkan aku kepada satu sosok yang begitu penuh cinta dan kasih sayang, mencintaiku dengan begitu tulus, menyayangi dengan apa adanya aku, menemaniku dalam suka dan duka, memberiku motivasi di saat aku terpuruk, tak pernah meninggalkanku dalam kesendirian, aaahh bagiku dirimu tak pernah dapat kulukiskan melalui kata-kata. Karena kau terlalu istimewa, istimewa dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padamu, bagiku kau adalah pahlawanku. Pahlawan yang akan menuntunku dunia dan akhirat. Aku mencintaimu pahlawanku, Suamiku...


Semoga kita dapat menjadi pahlawan bagi diri sendiri, orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, dan juga untuk orang lain. Aamiin

 





Selasa, 11 Agustus 2015

Terpenjara dalam kemerdekaan


Kota hujan, Agustus 2015 (dalam rencanaMu)

Bangsa indonesia beberapa hari kedepan secara serempak akan merayakan hari kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 2015. Kita sebagai masyarakat beramai-ramai akan merayakannya, masing2 panitia dari tiap2 daerah sibuk mempersiapkan acara untuk lomba-lomba. tapi aku, hanya bisa berbaring, dan sesekali duduk didepan laptop untuk membuat tugas dari grup ODOP yang baru saja aku ikuti. Aku adalah seorang ibu rumah tangga sudah memiliki dua anak laki2, mereka sudah sekolah yg pertama sudah kelas 6 SD dan yg kedua kelas 2 SD.  aku beruntung mempunyai suami yang luar biasa, sangat menyayangi keluarga, aku yang sedang terbaring dalam masa pemulihan pasca melakukan kuret, masih lemah dan sehingga belum bisa melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga yang lain. jadi suamiku lah yang menggantikan aku melakukan aktivitas2 itu.  sebelumnya aku jg bekerja, aku mengajar di sebuah sekolah, tidak jauh memang jaraknya dari rumahku, tapi tetap saja kondisi kesehatannku tdk mengizinkan aku untuk beraktifitas.karena ini adalah kuretku yang kedua kalinya, sepertinya aku harus benar2 bedrest. tapi ternyata pihak sekolah memiliki kebijakan sendiri, karena kondisiku yang harus bedrest ini sekolah terpaksa mencari penggantiku, hmmm...lagi2 aku harus mnjadi pengangguran..hee
terpenjara dalam kemerdekaan, sepertinya kata2 itu cocok buatku, bagaimn tidak..september taun kemarin aku mengalami hal yg sama, harus kuret dan terpaksa harus istirahat dr bekerja. sementara orang lain bisa melakukan berbagai aktivitas dengan bebas dan merdeka, aku hanya bisa menikmati heningnya isi rumah sambil membuat coretan2 untuk melepaskan penatku. sambil menunggu 3 jagoanku pulang dr sekolah. Mereka lah semangat hidupku, mereka lah yang menghiasi hari2ku, apalagi anakku yang kelas 6 sudah mulai mengerti dengan kondisi mamahnya, dia tidak pernah merepotkan dalam hal makan,menyiapkan seragam sekolah, dia siapkan semuanya sendiri. Tadi pagi ketika mau berangkat sekolah seperti biasa dia pamit cium pipi kanan kiri, sambil berpesan singkat "cepet sembuh ya mah". Diikuti pelukan hangat dan kecupan dikening dr suamiku seraya berkata, "yang penting skrg mama sehat dulu, nanti kalau sdh sehat bisa cari kerja lagi". Anakku yang kedua teriak2, "ayaaah cepetan ayaah nanti terlambat, cepetaan" , anakku yang kedua itu memang hobinya teriak2 klo ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, hehe.. entahlah padahal sy dan ayahnya tidak pernah menghadirkan suasana teriak2 dirumah, tapi meski begitu ternyata hatinya begitu peka dan lembut, jika melihat saya mneteskan air mata, dia spontan mengambil tissu dan mengelapkannya ke pipiku, sambil berkata "jangan nangis mah, kan ada dede" sambil mengusap2 kepalaku...duuhh anak2ku itu memang luar biasa, anugrah terindah yang Allaah berikan. Keramaian yang mereka ciptakan, kerempongan yang mereka hadirkan, diam2 selalu membuatku rindu.
Untuk itu aku tetap bersyukur kepada Allaah, karena apapun yg Allaah beri untukku itu pasti yg terbaik, karena Allaah maha mengetahui sedang kita tidak. Terpenjara dalam kemerdekaan, ditengah emansipasi wanita, dimana wanita bebas berekspresi, bebas berkarier, karena saat ini bangsa kita adalah bangsa yang merdeka, wanita bisa bekerja dimana saja dan menjabat apa saja, tapi tetap saja, semua itu hanyalah keinginnan kita, yang mutlak menetukan adalah Allaah. Meski saat ini aku merasa terpenjara dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, karena tidak bisa bebas berkarier, tapi yang terpenting saat ini adalah hatiku tidak merasa terpenjara, hatiku merasa merdeka, hatiku merasa bebas. Dan semua itu adalah karunia dari Allaah yang patut aku syukuri. Terimakasih Allaah atas apapun yang telah Engkau rencanakan buatku. Sekian dulu corat coretnya yg amat sangat berantakan ini yaa teman2..harus berbaring dulu niih...terimakasih sdh meluangkan waktu untuk membaca  ditunggu saran dan kritiknya.

Senin, 30 Maret 2015

Tugas Reportase Hari ini



Assalamualaikum, Wr.Wb
Selamat pagi sobat muda, salam ukhuwah dan semangat slalu. Saat ini saya sedang berada di kampus IPB, tepatnya di gedung Auditorium Thayyib.
Hari ini adalah pertemuan perdana calon anggota FLP  cabang Bogor angkatan ke 8, yang dimulai dari pukul 8.30 pagi sampai pukul 12 siang, In Shaa Allaah. Saat ini saya sudah sampai dilokasi 15 menit sebelum acara dimulai, bisa kita lihat ya bangku-bangku itu masih banyak yang kosong. Sepertinya banyak teman-teman kita yang masih dalam perjalanan menuju kemari dan masih belum menemukan lokasinya. Oke sobat muda sambil menunggu acara dimulai, mari kita berkenalan dulu dengan teman-teman yang sudah ada disini.  Asslamulaikum de?  Walaikumussalam mba.  Ade yang tergabung di grup whatsup?  Iya mba. Waah pasti msih kuliah ya? Semester berapa de?  Iya mba saya masih kuliah, saya baru semester dua mba. Oalah ternyata benar dugaan saya sobat muda. Yang tergabung di calon anggota FLP ini usianya masih sangat muda-muda. Hadduuhh..saya jadi malu nih menyebutkan umur saya. Sobat muda, sepertinya waktu sudah menunjukan pukul 08.30, terlihat panitia  sudah mulai membuka acara ini sambil menunggu teman-teman yang satu-persatu mulai berdatangan.
Sobat muda Mba novi selaku MC telah mngenalkan dirinya, dan mengenalkan juga satu persatu teman-teman yang menjadi panitia dalam acara ini. Nah, untuk sesi  yang pertama, dibuka oleh bang syaiha, bang syaiha itu adalah ketua dari FLP cabang Bogor. Sobat muda,ternyata bang syaiha tidak bisa menemani kita sampai acara selesai, karena beliau akan mengadakan pertemuan dengan para sesepuh FLP, katanya sih hendak mendiskusikan bagaimana masa depan kita. Keren ya sobat muda. Kemudian sebelum lanjut kepada sesi berikutnya, diselang dulu oleh pembagian kelompok, tujuannya sih agar kita bisa lebih mengenal satu sama lain.
Berlanjut kepada sesi berikutnya ya sobat muda, yaitu adalah motivasi menulis yang dibawakan oleh ibu pipin, beliau juga adalah seorang guru di sekolah Alam. Beliau menjabarkan mengenai The Essential Compas. Yaitu intinya adalah apa makna dan tujuan kita hidup didunia ini sobat muda. Yaitu tidak lain adalah sebagai khalifah dimuka bumi dan untuk beribadah kepada Allaah SWT. Perwujudannya adalah agar kita senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat sobat muda, dapat mengamalkan ilmu yang kita punya, dan menulislah. Ya..menulislah sobat muda. Menulislah untuk keabadian, menulislah dengan hati, menulislah dengan menyenangkan, menulislah dengan niat hanya karena Allaah SWT, sehingga menjadi nilai ibadah di sisi Allaah SWT. Karena sejatinya karir itu tidak ada sobat muda. Jikalaupun kita menuai kesuksesan dari apa yang telah kita lakukan. Itu adalah buah dari kerja keras kita, dan merupakan bonus dari Allaah SWT.
Oke sobat muda, sepertinya waktu sudah menunjukan pukul 12.30, aga melebar ya dari jadwal yang ditelah ditentukan. Terlihat mba novi sudah mulai menutup acara ini. Dengan dibawakannya puisi terlebih dahulu. Oleh salah seorang teman panitia disini. Baik sobat muda sekian reportase hari ini yang in shaa Allaah membawa manfaat bagi saya khususnya dan juga bagi teman-teman semua.
Wassalamualaikum Wr.Wb
R. Nurul Imaroh


Senin, 16 Maret 2015



Bismillaah...
 Alhamdulillaah, akhirnya hari ini bisa kembali menulis di blog, waah sudah begitu banyak kejadian-kejadian hebat yang sudah saya alami hampir 1 bulan ini, dan semua itu tentunya  atas kehendak Allaah SWT .Dia lah yang telah mengatur episode demi episode kehidupan yang akan dijalani oleh hambaNya. Apakah kalian tahu kawan, bahwa ketika kita telah melakukan satu kebaikan, dan ternyata kebaikan itu bernilai pahala keikhlasan di mata Allaah, maka lihatlah kita akan dikejutkan oleh ribuan kebaikan dari Allaah yang  Allaah bayar tuunaai (tanpa kredit/dicicil). Itulah janji Allaah, bahwa 1 kebaikan akan dibalas dengan ribuan kebaikan. Dan kebaikan yang telah kita tanam, tak mesti tumbuh dan berkembang ditempat yang sama, bisa jadi Allaah menghadirkan buah kebaikan itu ditempat yang lain. Maka dari itu kawan,marilah mulai saat ini kita tanam pohon-pohon kebaikan dimana saja dan kapan saja. Karena kita tidak akan pernah tau, dari pohon manakah yang akan menghasilkan ribuan bahkan jutaan buah kebaikan, sebagai balasan atas kebaikan kita.

Jumat, 23 Januari 2015

Cara masuk surga sekeluarga



Cara masuk surga sekeluarga...Leave a comment

oleh Ustadz Bachtiar Nasir
1. Coba suatu hari ingatkan seluruh anggota keluarga begini; "Kita kerjasama agar masuk surga sekeluarga yuk?"
2. Bagaimana caranya?. Lihat surat Ath Thur 25-26.
Para penghuni Surga membocorkan rahasianya bagaimana cara masuk Surga sekeluarga. Mau tau?
3. Ceritanya penghuni Surga saling bercengkrama berhadap-hadapan, masing-masing bertanya jawab bagaimana keluarga kalian dulu?, koq bisa masuk Surga?,
4. Jawabnya seragam; "Kami bisa masuk Surga karena dulu di Dunia, dikeluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang siksa pedih Neraka".
5. Karenanya Visi rumah tangga orang beriman adalah; "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa Neraka, (At Tahrim; 6). .
6. Rumahku Surgaku, akan terjadi jika masing-masing anggota keluarga memelihara dirinya dan mengingatkan anggota keluarga lainnya dari siksa Neraka.
7. Siapa yang tak sedih jika ada salah seorg anggota keluarganya (ayah, ibu, kakak atau adik) terjerumus ke lingkungan siksa "Neraka"?.
8. Setiap anggota keluarga pasti sangat sedih jika Bahtera Keluarga pecah dan karam akibat terpaan gelombang kehidupan dunia yang mematikan.
9. Agar masuk Surga sekeluarga, ingatkan anggota keluarga kita yang sedang khilaf berbuat dosa atau lalaikan perintah Allah, jangan dibiarkan.
10. Jangan kecewa kalau peringatan kita diabaikan, atau malah dilecehkan, karena dakwah di tengah keluarga kadang lebih berat, jangan lupa doakan.
11. Nabi Nuh alaihissalam tak pernah bosan mengingatkan anaknya yg tersesat, Nuh alaihissalam terus mendoakannya sampai akhirnya Allah tenggelamkan Kan’an.
12. Nabi Luth alaihissalam tak pernah berhenti memperingatkan isterinya yang membangkang, sampai akhirnya Allah binasakan isterinya bersama kaum Sodom.
13. Asiah binti Muzahim, tertatih-tatih peringatkan suaminya Fir’aun, konsisten mendidik Masyithah & Musa alaihissalam, akhirnya Asiah yang dibunuh Fir’aun.
14. Habil tak pernah takut mengingatkan dan menasehati kakaknya Qabil, rasa iri dan dengki berkecamuk sampai akhirnya Habil dibunuh Qabil.
15. Agar bisa masuk Surga sekeluarga perlu perjuangan dan pengorbanan yang besar, selain itu kesabaran dan konsistensi juga harus dilakukan.
16. Ingatkan suami agar bekerja ditempat yang halal, jangan bawa pulang penghasilan yg haram, krn akan jadi bahan bakar neraka Rumah Tangga.
17. Ingatkan isteri agar memperhatikan Pola Konsumsi Halal untuk keluarga, anak-anak akan susah diajak taat dan ibadah jika mengkonsumsi yang haram.
18. Ingatkan anak-anak bahwa bahan bakar Neraka adalah Batu dan Manusia, jangan sampai salah seorang dari kita jadi bahan bakarnya Neraka.
19. Ceritakan bahwa penjaga Neraka adalah Para Malaikat Perkasa yang kuat dan kasar, mereka tak pernah khianati Allah & pasti laksanakan perintahNYA.

 SubhanaAllah.. alangkah indah dan merupakan karunia tak terhingga dari Allah SWT apabila kita sekeluarga bisa masuk surga.








Rabu, 21 Januari 2015

Luruskan Niat Bersihkan Hati (keberkahan waktu dengan membaca Al Qur'an)



KEBERKAHAN WAKTU KARENA ALQURAN   Leave a comment


"Jangan tinggalkan membaca Al Qur’an, semakin banyak baca Al Qur’an urusanmu semakin mudah dan waktu menjadi berkah"

Apa yang dimaksud dengan berkahnya waktu? yaitu dapat melakukan hal dalam waktu yang sedikit, dan tentunya hal-hal yang bermanfaat, bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain. Apalagi sekarang sudah ada program ODOJ yaitu one day one juz. Dalam satu hari itu kita berkewajiban membaca Al-Qur'an sebanyak 1 juz, dan itu hanya menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam, tapi masih banyak sekali orang-orang yang masih kesulitan dengan hal seperti itu. Sebetulnya awalnya semua karena dibiasakan maka selanjutnya akan terbiasa. Tidak ada kata tidak sempat jika kita memang mau meluangkan waktu.
Padahal teorinya orang yang membaca Al Qur’an menghabiskan banyak waktu, mengurangi jatah kegiatan lain, tapi Allah yang membuat waktunya itu menjadi berkah, Dia mengatur sedemikian rupa hingga menjadi begitu efektif, hidup kita pun menjadi lebih efektif.

Dan Allah akan mencurahkan banyak berkah dan kebaikan pada kita karena Al Qur’an. Allah akan selalu memudahkan segala urusan kita, membuka pintu menuju kebaikan dan membuka kesempatan untuk amal shalih berikutnya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan karena Allah yang akan mengurus semuanya, InsyaAllaah..Aamiin.
Itulah waktu yang berkah karena Al Qur'an, bisa melakukan banyakhal dalam waktu sedikit.
Jagalah keistiqomahan kita dalam membaca Al Qur'an, maka Allah akan menjagamu.
Dan esbaliknya apabila waktu terlalu sibuk sehingga habis untuk urusan dunia, sungguh sangat disayangkan jika hal itu sampai menimpa kita.
Barangsiapa yg bangun di pagi hari dan hanya dunia yang di pikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat HAK ALLAH dalam dirinya, maka ALLAH akan menanamkan 4 macam penyakit padanya :
1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya.
3. Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi.
4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya.
[Hadits Riwayat Muslim]
Untuk itu marilah teman, kita budayakan membaca Al Qur'an, maka waktu kita akan menjadi barokah, urusan kita akan semakin mudah, jangan lupa luruskan niat bersihkan hati, agar kita terhindar dari niat yang salah dalam membaca Al Qur'an.
Note :
"Keberkahan waktu yaitu bisa melakukan banyak amal kebaikan dalam waktu sedikit"
Selamat membaca Al Qur’an dan beraktifitas dengan bekal Al Qur’an.

Selasa, 20 Januari 2015

Cintanya mama

Satu Rahasia Kunci yang Akan Menebak Kesuksesan Anak Anda 40 Tahun Kemudian   Leave a comment

 

Sebuah temuan riset yang mengguncang baru-baru ini dirilis oleh tim peneliti dari Harvard Medical School. Riset itu berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya. Ya, responden penelitian itu dipantau terus hingga puluhan tahun lamanya.
Riset itu mau melacak beragam variabel penentu kesuksesan orang – baik dari sisi finansial, kesehatan dan kebahagiaan.
Ada satu variabel temuan yang dengan sangat akurat bisa mempredikasi keberhasilan anak-anak : tingkat keberhasilan, kesehatan dan kebahagiaan apa yang akan dialami anak itu 40 tahun kemudian.
Di pagi ini kita akan membongkar rahasia kunci dari hasil riset yang berlangsung puluhan tahun itu.
Riset yang berlangsung puluhan tahun itu telah berhasil menemukan beragam variabel yang mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang.
Namun ada satu variabel kunci yang amat mencolok perannya dalam memprediksi tingkat keberhasilan responden : yakni tingkat kedekatan dan kehangatan seseorang dengan ibunya saat ia masih kecil.
Dengan kata lain, tingkat relasi dan kehangatan anak dengan ibunya saat masih kecil, merupakan variabel kunci penentu keberhasilan anak tersebut 40 tahun kemudian.
Terbukti sudah, bahwa relasi anak-anak saat masih kecil dengan ibunya benar-benar berdampak signifikan hingga puluhan tahun ke depan dalam pembentukan sejarah hidup anak tersebut.
Apa implikasi dari temuan riset tim Harvard Medical School itu? Bagi mbak-mbak calon ibu dan juga ibu yang sudah punya anak-anak kecil – dan selama ini bekerja secara full time di kantor; hasil riset itu menghadirkan pertanyaan reflektif.
Apakah ibu-ibu yang bekerja full time di kantor itu masih punya waktu berkualitas untuk membangun relasi yang intim dan hangat dengan anak-anaknya (terutama yang masih berusia dibawah 10 tahun)?
Harus diakui dengan cukup pahit : waktu untuk bekerja di kantor sekarang kian menyita waktu (juga karena jalanan yang makin crowded).
Pergi mulai dari jam 6 pagi (kalau Anda tinggal di Bekasi, mungkin harus lebih pagi lagi). Lalu pulang di rumah jam 6 petang, kadang lebih. Begitu terus tiap hari selama 5 kali seminggu. Jalanan yang macet juga membuat energi sudah habis di jalanan.
Alhasil, anak-anak kecil yang masih di rumah jarang lagi mendapatkan kehangatan dari sang ibu. Anak-anak itu mungkin jadi lebih dekat dengan mbak-mbak asisten rumah tangga atau dengan baby sitter-nya.
Ibu-ibu tangguh yang bekerja full time itu lalu menghadapi dilema : bagaimana menyeimbangkan prioritas antara work and family, antara tugas kantor dengan mengasuh anak-anaknya yang masih kecil (apalagi yang masih perlu ASI).
Sebab ingat : temuan riset Harvard tadi menyebut, tingkat kedekatan anak dan sang ibu akan amat menentukan nasib dan sejarah anak itu 40 tahun kemudian.
Ada dua solusi yang bisa diberikan oleh kantor (perusahaan) yang menyediakan pekerjaan bagi para ibu.
Solusi # 1 : Perusahaan atau kantor tempat bekerja selayaknya menyediakan fasilitas nursing care dan child care yang lengkap dan memadai. Syukur disediakan juga pengasuh anak yang diberikan secara gratis oleh perusahaan (praktek seperti ini lazim di berbagai perusahaan di manca negara).
Dengan fasilitas nursing and child care, ibu-ibu karyawati yang punya anak kecil (atau balita) bisa sesekali membawa anaknya ke kantor (dengan itu ia masih bisa tetap menjalin relasi yang cukup dekat dengan anak-anaknya).
But you know what? 99% lebih perusahaan di Indonesia TIDAK menyediakan nursing and child care buat karyawatinya yang punya anak balita. Bahkan perusahaan mapan seperti Astra, Bank BCA, Adira, hingga organisasi besar seperti Bank Indonesia tidak punya fasilitas nursing/child care yang modern dan lengkap.
Ini ironis. Banyak perusahaan menuntut karyawatinya untuk produktif dan loyal. Namun saat diminta menyediakan fasilitas basic yang bagus (seperti nursing/child care), mereka ogah. Kalau begini, sana gih, perusahaannya pindah saja ke Zimbabwe atau Kongo.
Now, ask yourself : apakah kantor tempat Anda bekerja sudah menyediakan fasilitas nursing and child care yang modern dan dilengkapi dengan kamera CCTV (sehingga ibu-ibu bisa memantau mobilitas anak-anak kecilnya hanya melalui layar smartphone)?
Solusi # 2 : Sediakan kebijakan teleworking bagi ibu-ibu yang kebetulan masih punya anak kecil dan balita. Teleworking kita tahu, adalah kebijakan yang membolehkan karyawan untuk bekerja dari rumah.
Sekarang kita sudah hidup di jaman digital. Amat banyak pekerjaan di kantor yang sebenarnya bisa diselesaikan dari rumah, sepanjang ada koneksi internet.
Survey juga menunjukkan, sepanjang ada target kinerja yang jelas maka kebijakan teleworking justru makin meningkatkan produktivitas karyawannya. Kebijakan ini tentu juga amat membantu mengurangi kemacetan di jalanan.
Dengan kebijakan teleworking, ibu-ibu yang masih punya balita bisa bekerja dari rumah setiap 2 hari seminggu.
Dengan demikian ibu-ibu muda (yang cantik dan tangguh) ini bisa menghemat waktu 2 – 3 jam perjalanan PP ke kantor yang hanya habis di jalanan (kalau rumahnya di Bekasi malah bisa 4 jam pulang pergi, itupun kalau naik roket :) ).
Waktu 3 – 4 jam yang sia-sia di jalanan jauh lebih berharga untuk dihabiskan dengan sang buah hati di rumah. Demi membangun relasi yang hangat dan berkualitas.
Namun kembali, lansekap perusahaan di tanah air punya warna kelam dalam soal kebijakan teleworking. Nyaris tidak ada satu pun perusahaan swasta nasional dan BUMN di tanah air yang merilis kebijakan teleworking bagi para karyawatinya. Ajaib.
Manajer dan Direktur HRD di perusahaan-perusahaan besar itu mungkin sudah menggunakan smartphone atau tablet tercanggih di sakunya. Namun sayang, dalam soal kebijakan teleworking, pola pikir mereka masih primitif. Purbakala.
DEMIKIANLAH, dua solusi yang layak diperhatikan dan diterapkan oleh para pengelola SDM di berbagai perusahaan dan kantor. Anda yang berperan sebagai ibu atau calon ibu harus mendorong manajemen kantor Anda untuk menerapkan dua solusi diatas.
Sebab dengan itu ibu-ibu muda yang tangguh itu – yang rela bekerja full time demi tambahan nafkah – masih bisa punya waktu berkualitas dengan sang buah hatinya di rumah.
Ya, agar anak-anak yang masih kecil itu bisa tumbuh dalam kehangatan ibundanya. Demi masa depan anak-anak. Demi hidup dan sejarah mereka 40 tahun kemudian.

Photo credit by : Kids